Minggu lalu penulis berkesempatan
memberkati sebuah pernikahan. Dalam kesempatan itu penulis menjelaskan
bahwa surat yang penulis tanda tangani setelah kebaktian pernikahan
berakhir bukanlah sebuah pernikahan melainkan hanyalah selembar kertas
yang menyatakan bahwa kedua mempelai resmi secara hukum menjadi suami
dan isteri dan kertas itupun tidak dapat memberikan kebahagiaan. Yang
membuat pernikahan itu bukanlah pestanya tetapi hari-hari,
minggu-minggu, bulan-bulan serta tahun -tahun yang dilalui bersama
sebagai suami dan isteri setelah pesta pernikahan tersebut berakhir.
Besar
kemungkinan kedua mempelai tidak pernah menjumpai pertanyaan seperti,
"apakah engkau bersedia mati untuk pasangan hidupmu?” Namun demikian
dalam konseling pra-nikah penulis membiasakan diri untuk mengajukan
pertanyaan tersebut kepada kedua calon suami dan isteri untuk mengetahui
tujuan mereka menikah. Jika pasangan yang ada tidak bersedia mati untuk
pasangan hidupnya, bagaimana mungkin ia dapat mematikan kepentingan
peribadinya demi untuk membahagiakan pasangan hidupnya. Tujuan menikah
bukanlah mencari kebahagian peribadi, semuanya berpusat pada "KU",
melainkan berpusat pada pasangan hidup. Dengan demikian tujuan menikah
boleh dikatakan "Aku ingin membuat engkau berbahagia, maukah engkau
menikahiku?"
Jika pernikahan
tidak didasarkan atas kepentingan peribadi melainkan mendahulukan
kepentingan pasangan hidup maka kebahagiaan peribadi akan ditemukan
dalam kebahagiaan pasangan hidupnya. Menikah itu bukanlah secarik kertas
yang ditanda tangan oleh gembala sidang (bagi umat Kristen) dan saksi
yang ada, pernikahan itu adalah sebuah hadiah, yaitu masing-masing pihak
yang menikah memberikan dirinya, kehidupannya satu dengan yang lain.
Pernikahan adalah sebuah pengorbanan diri yang berakar pada salib
Kristus yang memberikan diriNya bagi setiap orang yang berdosa untuk
dapat didamaikan dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
Apakah
Anda yang menikah dapat saling mengorbankan kepentingan peribadi Anda
dengan tujuan untuk membahagiakan pasangan hidup Anda? Bukankah Anda
juga turut berbahagia karena pasangan hidup Anda berbahagia? Dapatkah
Anda bayangkan, jika masing-masing pihak saling mendahulukan kepentingan
pasangan hidupnya dengan tujuan untuk membahagiakan pasangan hidupnya,
bukankah suami dan isteri yang seperti ini akan menjalani hari-hari
pernikahan mereka diisi dengan gelak dan tawa? Jika "Aku" sang "Ego"
telah diberikan kepada pasangan hidup masing-masing maka yang tertinggal
adalah keinginan untuk hidup bagi pasangan hidupnya. Dengan demikian
pandangan hidup akan berubah dari berpusat pada diri sendiri karena
sudah tidak ada "Aku" sang "Ego" lagi kepada kepentingan pasangan
hidupnya.
Mendahulukan
kepentingan pasangan hidup bukan hanya sekedar selogan yang bertahan
sehari tapi harus dilakukan setiap hari. Suami dan isteri harus
mematikan "Ego"nya setiap hari, harus bersedia berkorban setiap hari
untuk menemukan kebahagiaannya dalam kebahagiaan pasangan hidupnya.
Pernikahan adalah berbagi kehidupan karena Anda telah memberikan diri
Anda untuk bersatu, satu sama lain. Ini berarti Anda berani melepaskan
hal-hal kecil ... Seperti siapa yang benar dan siapa yang salah.
Pernikahan bukanlah tentang menemukan kesalahan, pernikahan adalah
tentang membuat pasangan hidup Anda bahagia. Ini berarti menempatkan
kepentingan pasangan hidup Anda diatas kepentingan Anda sendiri. Hai
suami ketahuilah bahwa Anda akan menemukan kebahagiaan Anda pada saat
Anda melihat isteri Anda berbahagia dan isteri ketahuilah bahwa Anda
akan menemukan kebahagiaan Anda pada saat Anda melihat suami Anda
berbahagia.
Masalah muncul
ketika Anda mencoba untuk mencari kebahagiaan Anda yang berpusat pada
diri Anda sendiri tetapi Anda tidak mencarinya didalam kebahagiaan
pasangan hidup Anda, maka kebahagiaan sejati itu tidak pernah akan Anda
temukan. Namun kunci untuk mencari kebahagiaan adalah keberaniaan untuk
mengorbankan keegoisan Anda. Bila Anda berani mengorbankan keegoisan
Anda, maka Anda pasti bisa membahagiakan pasangan Anda. Ketika Anda
hidup untuk membahagiakan pasangan hidup Anda, maka Anda akan menemukan
diri Anda berbahagia. Anda akan sangat senang dan berbahagia pada saat
Anda melihat pasangan hidup Anda berbahagia. Inilah pernikahan itu dan
inilah yang dimaksudkan mereka bukan lagi dua melainkan satu dan apa
yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia. Semoga
bermanfaat dan boleh menjadi berkat.
repost: http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/03/20/92/150320173621/Mencari-Kebahagiaan-Dalam-Pasangan-Hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar